Regulasi Tiga Nabi, “Posisi Wuenak” Operator, dan Tarif Seluler Murah

shortlounge2.jpgJika dilihat sepintas, sepertinya operator seluler jor-joran menggelontor tarif murah untuk menelepon. Sepertinya mereka merupakan jutawan yang murah hati, mengobral tarif sampai hitungan satu perak, malah ada yang nol alias gratis.

Konsumen di Tanah Air terbuai, mereka anggap biaya menelepon-ria mereka saat ini sudah murah; atau, paling tidak, bisa tinggal pilih operator yang mau memberi harga termurah. Konsumen sepertinya tak sadar bahwa mungkin mereka berhak atas tarif yang lebih murah lagi. Konsumen mungkin juga banyak yang tidak mengerti bagaimana struktur tarif itu diciptakan, apalagi untuk bisa mengintip marjin keuntungan yang diraup dari setiap layanan mereka. Konsumen sudah happy! Continue reading

Advertisements

KMIP

digitalfortress2.jpgLima tahun sebelum menerbitkan The Da Vinci Code yang menghebohkan itu, sebenarnya Dan Brown telah menelorkan karya yang berjudul Digital Fortress (yang sudah pula diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia mengikuti sukses The Da Vinci Code). Karya pertama tersebut bercerita tentang penyadapan informasi yang berseliweran di seluruh dunia oleh sebuah badan pemerintah Amerika Serikat yang disebut National Security Agency.

Badan ini diceritakan memiliki sebuah superkomputer terbesar di dunia dengan 3 juta chip prosesor di dalamnya. Bayangkan, komputer yang sedang dijajakan di pasaran saat ini saja masih dipropagandakan kepada kaum awam sebagai komputer yang memiliki dua prosesor di dalamnya. Dengan 3 juta prosesor di dalamnya itu, komputer yang dijuluki TRANSLTR ini mampu memecahkan sandi atau data yang dienkripsi dalam tingkat mana pun. Konon bahkan mampu memecahkan informasi yang disandi dengan enkripsi 64 bit hanya dalam waktu 12 menit, padahal komputer tercepat saat ini umumnya akan butuh bertahun-tahun untuk memecahkannya.

Dengan TRANSLTR, NSA mengintip dunia. Tak ada informasi digital di dunia ini yang mampu lolos jika dikehendaki untuk diintip oleh NSA. Tentu saja ini tidak sah karena menerobos hak privasi publik. Itulah mengapa keberadaan TRANSLTR ini dirahasiakan mati-matian. Sampai seorang mantan karyawan NSA korban bom atom kelahiran Jepang, Ensei Tankado, yang cacat namun sangat cerdas berjuang untuk menentang pengintipan informasi tersebut.

Continue reading

VOIP

VoIP adalah singkatan dari Voice over Internet Protocol. Ini adalah teknologi yang digunakan untuk mentransmisi panggilan melalui jaringan IP alias Internet. Panggilan analog dikonversikan menjadi bentuk digital dan dijalankan sebagai data oleh Internet Protocol. Biaya yang timbul juga lebih murah karena jaringan utama IP dapat digunakan untuk sambungan virtual berganda.

Karena menggunakan IP teknologi, suara dikonversikan menjadi bentuk paket-paket kecil data dan dikirim melalui jaringan utama IP yang merupakan cara yang lebih efisien dibandingkan dengan cara konvensional.

Teknologi ini pernah demikian menghebohkan dan menjadi isu nasional akibat ketakutan pihak-pihak tertentu bahwa kehadirannya akan mengancam operator telekomunikasi yang menyediakan SLJJ dan SLI.

Teknologi VoIP ini sekarang bahkan juga digunakan oleh operator seluler dan diintegrasikan menjadi salah satu backbone telekomunikasinya. Operator yang sudah mengantongi ijin, memiliki jaringannya sendiri, dan sudah pula mengoperasionalkan teknologi ini adalah XL. Hasilnya adalah layanan yang lebih murah. Bagaimanakah seluler dengan VoIP ini bekerja? Ilustrasi sederhananya adalah sebagai berikut:
• Kita berbicara melalui telepon
• Suara ditangkap sebagai bentuk suara analog
• Bentuk suara dikonversikan menjadi data (bit digital- satu dan nol)
• Data dialihkan melalui jaringan IP milik operator menggunakan TCP/IP protocol.
• Data dikirim kepada jaringan tempat yang dituju sebagai data (melalui jaringan IP)
• Akhirnya data dikonversikan lagi ke dalam bentuk suara yang dapat kita dengar.

Continue reading

FLIGHT MODE

Bolehkah menggunakan telepon seluler di udara selama penerbangan? Meski banyak kontroversi mengenai hal itu, namun majoritas otoritas penerbangan melarangnya. Pada umumnya kru pesawat akan mengingatkan hal tersebut menjelang take off dan menjelang touch down kembali mengingatkan untuk tidak menggunakannya bahkan selama taxiing menuju ke aerobridge (belalai) kalau ada.

Lagipula, pada ketinggian lebih dari 30 meter dari permukaan bumi saja, ponsel sudah sulit menangkap sinyal, apalagi pada ketinggian pesawat yang umumnya sekitar 11km.

Namun sebenarnya kita punya hak untuk tetap menggunakan ponsel kita, asalkan bukan untuk transmisi sinyal. Bukan untuk menelepon atau ber-SMS. Kita bisa menggunakan ponsel atau PDA-phone kita untuk fitur-fitur lain yang melengkapinya. Maklum, gadget sekarang ini bukan cuma punya kemampuan untuk berkomunikasi, melainkan juga untuk mengolah informasi dan hiburan. Jadi untuk mengusir rasa jenuh di pesawat, atau malah untuk melakukan kegiatan produktif di pesawat, kita punya hak untuk tetap menggunakan gadget kesayangan kita, baik untuk main game, potret-memotret, atau mengedit tulisan reporter kita.

Flight mode adalah kunci untuk semua itu. Flight mode, seperti namanya, memang dimaksudkan untuk kepentingan “membungkam” ponsel saat dalam penerbangan. Banyak ponsel yang sudah dilengkapi dengan menu ini, apalagi jika peranti Anda adalah PDA-phone. Jadi jika Anda suka beterbangan (maksudnya sering naik pesawat terbang) carilah fitur ini pada ponsel Anda.

Continue reading

BAHASA SMS

SISWA sekolah menengah atas (SMA) di Selandia Baru akan diizinkan memakai bahasa seperti yang biasa dipakai dalam pesan singkat telepon seluler (SMS). Para pejabat pendidikan negeri kiwi itu, Jumat lalu, mengatakan, bahasa tulis ala SMS bahkan bakal diizinkan dipakai dalam ujian akhir nasional (UAN) tahun ini.

Bahasa teks sudah jadi bahasa kedua bagi ribuan remaja yang gemar menyingkat kata atau menciptakan ungkapan-ungkapan baru, seperti CU untuk see you, BTW yang kependekan dari by the way, dan LOL yang artinya laughing out loud.  Rencana ini segera memicu kontroversi. Sementara para siswa kegirangan, para guru takut bahasa “gaul” itu akan merusak bahasa Inggris. Panitia UAN Selandia Baru menyatakan, pihaknya masih tak bisa menerima digunakannya bahasa Inggris yang tidak baik dan benar oleh para pelajar.

Namun, mereka akan tetap memberi nilai bagi setiap jawaban yang benar dalam ujian meski jawaban ditulis dengan bahasa SMS. Menurut Bali Haque, Deputi Eksekutif Kepala Panitia UAN Selandia Baru, para siswa tetap harus berusaha menjawab soal ujian dengan sejelas-jelasnya.

Continue reading

JAMMING

Setiap kali Presiden Amerika Serikat, George W Bush, berkunjung ke suatu negara, pasti ia meminta jamming sinyal telepon seluler untuk daerah yang dikunjunginya. Ia memang paranoid terhadap teror bom, terutama dalam hal ini yang dipicu lewat ponsel. (Mungkin ia sadar diri sebagai presiden negara yang paling banyak punya musuh karena kebijakannya yang suka memusuhi.)

Padahal, di negeri Paman Bush sendiri, jamming sinyal seperti ini tidak bisa dilakukan secara sebarangan karena melanggar undang-undang. Di sana, barang siapa secara aktif kedapatan melakukan jamming, bahkan juga kedapatan “sekadar” membuat, memiliki, atau menjual alatnya akan didenda 11 ribu dolar atau penjara satu tahun.

Jamming aktif maksudnya adalah sengaja melakukannya di tempat publik yang bukan domain miliknya tanpa persetujuan resmi dari pemilik tempat. Beda dengan jamming pasif yang secara permanen melindungi tempat yang dimiliki seseorang dengan tujuan agar tidak ada sinyal keluar masuk tempat tersebut. Cara ini umumnya ditempuh oleh tempat-tempat ibadah, rumah sakit, bioskop, dan tempat-tempat lain yang membutuhkan ketenangan.

Continue reading

GRAMEEN

Laily Begum dan suaminya Atiqullah, adalah pasutri buruh miskin yang tinggal di Patira, sebuah desa di Dakshin Khan, di luar kota Dhaka, Bangladesh. Didorong suaminya, Laily meminjam duit di Grameen Bank. Pertama kali, dipinjamnya 4500 BDT dan dibelikan seekor sapi untuk diperah susunya. Dari situ mulai ada pendapatan tambahan, meski belum cukup juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kredit untuk membeli sapi kedua diajukan, sebesar 6000 BDT.

Pada tahun 1997, olah manajer cabang Grameen Bank, Laily ditawari untuk menjadi Village Phone (VP) Lady, yaitu sebuah program mirip wartel di Tanah Air. Hanya saja yang menjadi “warung” dalam program ini adalah perempuan-perempuan seperti Laily Begum. Para perempuan ini melayani kebutuhan menelepon warga dengan mengedarkan ponselnya untuk “disewakan”.

Bisnis Laily ini berkembang pesat. Pada masa awal-awal, setiap bulan pendapatannya bisa mendapai 20000 sampai 26000 BDT. Itu kurang lebih seharga 5 ekor sapi! Saat kepemilikan telepon dan ponsel di daerah tersebut mulai tinggi, pendapatannya menjadi sekitar 7000-8000 BDT per bulan. Namun demikian, pada level pendapatan ini saja, keluarga ini bisa menabung sekitar 3000 BDT sebulan.

Kini pasutri dengan dua anak ini sudah memiliki 2 toko kelontong, 1 bisnis laundry, dan 1 buah apotek dengan wartel di dalamnya.

Continue reading