KANTOR ODONG-ODONG

odong2.jpgMenjalankan roda bisnis di Sabtu pagi, bagaimana caranya? Apakah harus pergi ke kantor?

Mus, seorang pengusaha penerbitan, melakukannya dari sebuah kereta odong-odong. Tahu kan kereta odong-odong? Ya, mainan jenis ini sedang naik daun. Ada berbagai macam odong-odong, mulai dari yang berbentuk kuda-kudaan atau komidi putar yang digerakkan dengan ontelan kaki sang operator, sampai kereta dua-tiga gerbong yang digerakkan dengan mesin bermotor. Untuk membuatnya lebih menarik perhatian, dipasanglah peranti pemutar musik dan pengeras suara untuk melantunkan lagu anak-anak.

Mainan ini memasarkan diri dengan cara jemput bola, mendatangi perumahan-perumahan. Mulanya mereka menjamur di perumahan-perumahan di Jakarta dan kota-kota satelit di pinggirnya. Namun, kini sudah merebak di seluruh penjuru Tanah Air mengikuti kisah suksesnya dalam mengeduk duit. Pelosok macam Mojokerto, misalnya, malah sudah menorehkan kisah duka kecelakaan kereta odong-odong.

Continue reading

Advertisements

KOMPLAIN

editorial171.jpgSiapa mau menampung keluhan, complain, kekesahan, kekesalan, gerutuan, omelan, ketakpuasan, pengaduan, kegeraman, ketidaksabaran, kemarahan, keberangan, kesebalan, kerongsengan, kekekian, keberangsangan, kegundahan, dari pelanggan terhadap sebuah layanan? Orang India mau!

Setidaknya itulah yang tercermin dalam buku laris “The World is Flat” tulisan Thomas L Friedman. Ketika menggali tentang outsourcing, Friedman bercerita tentang kunjungannya ke sebuah call center di Bangalore, India bernama 24/7 Customer. Perusahaan ini memekerjakan sekitar 2500 orang yang siap di depan telepon. Mereka siap melakukan kegiatan marketing dan layanan pelanggan untuk perusahaan-perusahaan di… Amerika! Di satu sudut mungkin sekelompok orang bekerja atas nama Dell, sedang di sudut lainnya bekerja untuk Microsoft.

Untuk membuat kesan layanan lebih personal, maka para karyawan ini menggunakan nama Amerika untuk dirinya. “My name is Ivy Timberwoods and I’m calling you…”. Bukan cuma itu, mereka ini juga dinetralisasi dalam soal aksen. Aksen India asli dilatih untuk disembunyikan, diganti dengan aksen dari negara yang akan mereka layani.

Menurut Friedman, ada sekitar 245.000 orang India yang mencari nafkah dengan cara menjawabi telepon untuk perusahaan-perusahaan di seluruh dunia seperti itu. Mereka menjualkan kartu kredit, atau menangani komplain soal koper yang hilang di bandara. Orang Amerika sendiri ogah melakukan pekerjaan ini, karena selain gajinya kecil menurut ukuran negeri itu, yang harus di-handle adalah masalah-masalah yang tidak bikin nyaman. Tapi bagi orang India, pekerjaan ini prestisius dan bergaji relatif tinggi.

Continue reading

XL-E220

e220-kontras1.pngAkhirnya dapet juga pinjeman data card dari Mbak Arum Prasodjo, PR XL yang kalau sudah nyanyi akan bikin orang termehek-mehek (sambil berharap dia mau nyanyi lagi pas ngemsi di acara-acara XL). Pertama buka tas plastik yang membungkusnya, agak kaget, kirain dia iseng ngirim film DVD. Habis, kemasannya mirip boks untuk DVD original. Menarik.
Kemasannya masih segelan utuh (ngambil dari gudang langsung kayanya :p), jadi awalnya merasa sayang untuk merusak segelnya. Walaupun akhirnya toh harus dibuka oleh sebab karena because, seperti kata-kata teman-teman di laboratorium kantor: “demi ilmu pengetahuan”.

Di kiri atas sampul depan tertera logo XL dengan tambahan tagline “3G Ready”. Lalu di bawahnya agak ke kanan ada kecapan: Mobile data connection at indredible speed. Arti ngawurnya kurang lebih: koneksi data secara mobile yang “nggegirisi” alias mencengangkan. Tidak percaya? Baca di pojok kiri bawah, di situ terdapat keterangan teknis yang berbunyi: XL-E220, 3G HSDPA/UMTS USB Modem. Dengan tambahan: Maximum Speed 3.6Mbps.

Continue reading

BOCAH

editorial2.jpgAnak-anak dan remaja kini menggunakan ponsel mereka sebagai alat utama untuk berhubungan dengan orang lain. Menurut survei yang diselenggarakan oleh Wireless Forum, Mobile Youth ’06, bocah umur 5-19 tahun makin banyak yang menggunakan ponsel sebagai alat untuk membuat jejaring sosial. SMS merupakan media yang paling banyak digunakan untuk berinteraksi dengan teman dibanding pengunaan panggilan telepon suara biasa.

 

Di Inggris, sebuah laporan dari The Carphone Warehouse and The London School of Economics pada September 2006 mengungkapkan bahwa:

  • 90% bocah berumur 12 tahun memiliki ponsel
  • Lebih dari 50% bocah umur 10 tahun memiliki ponsel
  • 70% bocah yang disurvei menyatakan bahwa ponsel membuat hidup mereka lebih baik
  • Ponsel merupakan sahabat baik baik anak perempuan dibanding buat anak laki-laki
  • 74% menggunakan ponsel terutama untuk SMS, 14% setia menggunakannya terutama untuk menelepon, 12% menggunakannya terutama untuk main game
  • Bocah umur 11-17 tahun rata-rata mengirim atau menerima 9,6 SMS per hari, dan melakukan panggilan atau menerima telepon 3,5 kali sehari
  • 11% bocah pernah dirampok ponselnya, namun 80% bocah merasa lebih aman ketika membawa ponsel saat keluar rumah, untuk kalangan anak perempuan angkanya lebih tinggi, yaitu 89%
  • 56% sadar bahwa memiliki ponsel membuat mereka akan menjadi sasaran kejahatan, namun hebatnya hanya 28% orang tua yang sadar bahwa putra-putrinya akan menjadi sasaran kejahatan
  • 36% anak perempuan menyatakan bahwa ponsel merupakan satu dari lima peranti elektronik terpenting, sedangkan hanya 17% anak lelaki yang menyatakan demikian
  • 42% bocah 15-17 tahun merasa tak dibutuhkan jika tak menerima setidaknya satu panggilan sehari

Continue reading