gPhone

tajuk24-gphone.jpgGoogle beraksi kembali. Meski para pejabat perusahaan itu masih membantah, gPhone yang lama digosipkan itu sepertinya segera tiba.

gPhone adalah julukan yang diberikan orang untuk ponsel yang konon sedang dikembangkan Google (merujuk pada iPhone yang dikembangkan “anak baru dalam industri ponsel”, Apple). Menurut sebuah sumber yang dituturkan kepada The Wall Street Journal edisi 2 Agustus 2007, Google telah menginvestasikan jutaan dollar AS dalam projek ponsel tersebut dan bekerjasama dengan operator AS seperti T-Mobile dan Verizon Wireless. Rencananya, pembuatan handset akan diserahkan kepada beberapa pabrik.

 
Seorang jurubicara Google menolak mengomentari gossip itu, namun membenarkan bahwa: “Kami sedang bekerjasama dengan semua operator dan pabrikan untuk memasukkan aplikasi Google Search dan aplikasi lainnya ke dalam peranti dan jaringan mereka.”

Continue reading

Advertisements

Hidup Asyik Dinavigasi

nokia6110nav.jpgDi kota Gombong, Jawa Tengah, ada sebuah terowongan rel kereta api yang menembus bukit. Cukup panjang sehingga jika dilewati siang hari, kereta akan mengalami “kegelapan” sesaat. Sesaat yang panjang.

Berapa panjangnya? Saya tak tahu pasti. Tapi suka saya jadiin mainan. Caranya? Dengan menghitung berapa detik yang dibutuhkan dari ujung ke ujung, lalu mengasumsikan kereta berjalan 60km/jam. Dari situ biasanya saya dapatkan hitungan sekitar 60 detik. Jadi, panjang terowongan itu kira-kira 1 km. Ada yang bisa mengonfirmasi panjang sebenarnya?

            Kalau salah ya maafkan saya. Berarti asumsi kecepatan kereta yang ngawur hehehe… Maklum lah, saya tidak punya akses untuk mengetahui kecepatan kereta sebenarnya. Di lokomotif suka ada panel digital yang menyala merah untuk menunjukkan berapa kecepatan kereta api saat itu. Namun, jarang sekali mendapat kesempatan untuk mengakses lokomotif hanya untuk mengetahui kecepatan kereta.

       Continue reading

EBITDA

tajuk23-ebitda.jpgMenurut Dr. Nuzul Achjar dari LPEM-UI, tarif di Indonesia belum kompetitif akibat tidak adanya persaingan yang efektif di industri selular. Salah satu indikasi bahwa persaingan di Indonesia belum berjalan efektif bisa dilihat dari EBITDA (earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization) operator yang tinggi. “Profit yang tinggi mengindikasikan performance pasar yang buruk,” ujarnya.

Jika dilihat dari EBITDA masing-masing operator, Telkomsel yang tertinggi. Per September 2006, EBITDA Telkomsel mencapai Rp 15 miliar. Angka ini tiga kali lipat dari EBITDA Indosat, dan hampir lima belas kali lipat EBITDA XL. Rasio EBITDA terhadap pendapatan tahun 2006 adalah 73% untuk Telkomsel, 58% untuk Indosat, dan 57 persen terhadap rasio.

EBITDA yang tinggi bisa dipengaruhi oleh beberapa hal. Di antaranya, efisiensi yang tinggi atau karena kekuatan pasar (market power) yang dimiliki. Dari hasil kajian akademis Institute for Development of Economics and Finance (Indef), EBITDA yang tinggi di industri selular bukan karena faktor efisiensi yang tinggi, melainkan akibat kekuatan pasar yang dimiliki oleh perusahaan dalam menetapkan harga.

Continue reading

Pulsa dalam Kemasan Sachet

sachet.gifSejak tampil, operator 3 memang beda. Yang paling menarik adalah pemasaran isi ulangnya. Jika mau isi ulang 3, pelanggan memiliki keleluasaan yang lebih. Bayangkan, kita bisa mengisi 1200 rupiah, 2700 rupiah, atau 352.000 rupiah. Ini karena syarat pengisian 3 adalah kelipatan 100 rupiah mulai 1100 rupiah sampai berapa saja.

Dengan visualisasi iklan berupa kucuran cairan dari sebuah sachet dan kemudian odometer atau meteran pom bensin, model denominasi ini menggebrak dunia pemasaran pulsa.

Ketika melihat visualisasi iklan versi sachet dengan cairan biru mengucur itu saya jadi teringat kembali tulisan saya di Kompas,16 September 2004, yang judulnya menjadi judul tulisan ini juga. Tiga tahun yang lalu! Ketika itu memang fenomena banting-bantingan harga kartu perdana sedang meruyak. Denominasi pulsa makin turun sampai tingkat 10 ribuan rupiah.

Saya jadi rindu untuk bernostalgia lagi dengan opini hampir 3 tahun lalu itu. Maka saya cuplik lagi beberapa hal dari tulisan tersebut yang masih relevan untuk hari ini.

Continue reading

ANTARBENUA

europe.jpgMichael Mace, seorang konsultan pemasaran pada Rubicon Consulting menulis dalam Blog-nya: “In the US, a cellphone is a tool. In Europe, a mobile phone is a lifestyle”. Lebih lanjut secara agak “iseng” ia menggambarkan perbedaan karakteristik penggunaan ponsel di Amerika Serikat (AS) dengan Eropa.

Di Eropa ponsel disebut “mobile” (dari kata “mobile phone). Orang misalnya akan berkata “I’ll ring your mobile.”. Sedang di AS, ponsel disebut “cellphone”. Misalnya “I’ll call your cell.”. Di Indonesia, nama yang paling populer adalah handphone.

Perusahaan yang menyediakan layanan telepon di AS disebut “carrier” sedang di Eropa disebut “operator”. Kita di Indonesia mengikuti Eropa sebagaimana kita mengadopsi teknologi GSM-nya, dengan menyebut juga operator.

Orang Eropa juga menempatkan posisi ponsel sangat tinggi dalam pergaulan di masyarakat. Ponsel merupakan pusat perkembangan teknologi. Sedang orang Amerika memandang ponsel memang penting, namun komputer dan Internet masih dominan pegang peranan dalam perkembangan teknologi.

Orang Eropa memandang bahwa ponsel merupakan pernyataan diri dan gaya mereka. Ponsel susah sangat fashion dan memiliki ponsel sama dengan pilihan pakaian yang dikenakan. Orang AS , meski memproduksi RAZR yang ditahtai berlian, namun secara umum kurang mengidentifikasikan ponselnya dengan fashion.

Continue reading

SINYAL KUAT

blog22.jpgCandi-candi Prambanan tegak menjulang di angkasa. Disapu terang lampu mengguyur sekujur bebatuannya. Membuatnya menjadi pilar-pilar cahaya yang secara gagah melatabelakangi dekorasi performance seni yang sekarang makin banyak digelar di pelatarannya, selain Kisah Ramayana, termasuk juga Konser Sinyal Kuat Indosat yang sedang saya tonton dari salah satu kursi batu panggung itu.

Kompleks Candi Prambanan juga sepertinya pas banget dengan gelora di Indosat. Ada vitalitas baru di perusahaan ini. Tepatnya revitalisasi roh lama yang seperti hidup segan, mati tak hendak. Jargon “Sinyal Kuat Indosat” yang dulu membahana namun kemudian redup, kini dihidupkan kembali. Rohnya ditiupkan kembali pada jam 20.07, 20-07-2007, di Candi Prambanan, Yogyakarta, oleh antara lain Radja dan (eks) Ratu –Mulan Kwok dan Pingkan Mambo.

Menurut Johny Swandi Sjam, Direktur Utama PT Indosat, pada mulanya adalah sebuah semangat intern dari dalam perusahaan Indosat untuk “Ayo Tancap Gas!”. Ditambah dengan momentum 40 tahun Indosat dan keberadan Board of Director yang masih muda-muda, maka digeberlah segala kecepatan untuk menjadikan Indosat berada di urutan paling depan. Tak heran jika kemasan acara peluncuran ini adalah “Xtreme Speed & Strong”.
Continue reading

SYARAT

tajuk21-ringgo.jpgAgus Ringgo adalah aktor yang sedang naik daun. Suksesnya dimulai ketika membintangi film “Jomblo”. Kiprah terbarunya di layar lebar adalah ketika membintangi film “Maaf, Saya Menghamili Istri Anda”.

Selain itu ia membintangi iklan Esia yang isinya kritik pedas untuk operator lain yang menggunakan warna dasar merah, hitam, biru.

Operator dengan warna biru disindir karena bertarif Rp 5 per 30 detik tapi mahal di 2 menit pertama (suara latar: “Lima menit pertama, berattt!!”).

Operator merah memberi Rp 150 per menit namun hanya berlaku tengah malam (suara latar: Nelpon siapa jam segini? Hiiii….).

Operator dengan warna dominan hitam dilukiskan memberi bonus 3X dan terkenal dengan suara kanak-kanak: “Jujur nih…” (suara latar: Syarat kok nggak tamat-tamat!).

            Lalu, coba simak iklan Flexi yang memandang bahwa “Sesuai riset, rata-rata orang bicara 3 menit. Jadi “ngapain” diberi tarif murah untuk pembicaraan berjam-jam?”.

            Perang masih berlanjut. XL tak mau kalah, juga membuat sindiran-sindiran yang sama untuk operator lain. Seorang ibu guru digambarkan sedang mengabsen para murid yang hadir. Si Harus Satu Jam tak hadir. Si Daftar Berlima absen. Si Tengah Malam tidak nongol. Si Sabtu Minggu entah kemana. Tiba-tiba Ronald Extravaganza sok-sokan nongol dan protes karena tidak dipanggil. “Kamu siapa?” tanya Ibu Guru. “Saya Syarat Dan Ketentuan Berlaku,” tukasnya. Eh, malah Ronald diusir karena menurut Bu Guru “Ini kelas bebas.” Yang dimaksud adalah kartu bebas­-nya XL.

Continue reading