KMIP

digitalfortress2.jpgLima tahun sebelum menerbitkan The Da Vinci Code yang menghebohkan itu, sebenarnya Dan Brown telah menelorkan karya yang berjudul Digital Fortress (yang sudah pula diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia mengikuti sukses The Da Vinci Code). Karya pertama tersebut bercerita tentang penyadapan informasi yang berseliweran di seluruh dunia oleh sebuah badan pemerintah Amerika Serikat yang disebut National Security Agency.

Badan ini diceritakan memiliki sebuah superkomputer terbesar di dunia dengan 3 juta chip prosesor di dalamnya. Bayangkan, komputer yang sedang dijajakan di pasaran saat ini saja masih dipropagandakan kepada kaum awam sebagai komputer yang memiliki dua prosesor di dalamnya. Dengan 3 juta prosesor di dalamnya itu, komputer yang dijuluki TRANSLTR ini mampu memecahkan sandi atau data yang dienkripsi dalam tingkat mana pun. Konon bahkan mampu memecahkan informasi yang disandi dengan enkripsi 64 bit hanya dalam waktu 12 menit, padahal komputer tercepat saat ini umumnya akan butuh bertahun-tahun untuk memecahkannya.

Dengan TRANSLTR, NSA mengintip dunia. Tak ada informasi digital di dunia ini yang mampu lolos jika dikehendaki untuk diintip oleh NSA. Tentu saja ini tidak sah karena menerobos hak privasi publik. Itulah mengapa keberadaan TRANSLTR ini dirahasiakan mati-matian. Sampai seorang mantan karyawan NSA korban bom atom kelahiran Jepang, Ensei Tankado, yang cacat namun sangat cerdas berjuang untuk menentang pengintipan informasi tersebut.

Ensei Tankado berjuang untuk mencegah pengintipan dengan cara memaksa NSA (dalam hal ini Trevor Strathmore, Wakil Kepala NSA, yang merupakan pemrakarsa dan pembela superkomputer tersebut) mengumumkan keberadaan TRANSLTR dan memusnahkannya. Lantas dia membuat sebuah program bernama Digital Fortress. Dengan Digital Fortress yang open source orang bisa mengenkripsi datanya tanpa bisa dipecahkan bahkan oleh TRANSLTR sekalipun. Jika itu terjadi, petaka bagi TRANSLTR. Oleh karena itu Strathmore berusaha dengan segala cara untuk mencegah hal itu terjadi.

Kisah selanjutnya silakan dibaca sendiri di bukunya. Seru kok!

***

Sementara itu di Tanah Air (yang akhir-akhir ini tanahnya suka berdansa dan airnya suka menyerbu masuk ke dalam rumah) sedang terjadi tarik-menarik soal kebebasan informasi juga. Hanya saja, jika informasi dalam Digital Fortress ada dalam ranah privasi, maka di Indonesia, informasi yang diperdebatkan ada dalam ranah publik.

Hari-hari ini sedang terjadi tarik-menarik antara pemerintah dengan DPR yang didukung oleh koalisi LSM tentang Rancangan Undang-undang Kebebasan Mendapatkan Informasi Publik (KMIP). Dalam hal ini, pemerintah cenderung ingin mempertahankan otoritas, sedang DPR dan LSM ingin serahkan hak kepada publik. Bahkan, soal judul juga masih diperdebatkanĀ  Judul RUU KMIP datang dari DPR-LSM, sementara pemerintah menamakan RUU Hak Warga Negara untuk Memperoleh Informasi (Kompas, Rabu 7/2/2007).

***

Pelajaran yang bisa ditarik adalah bahwa (badan) pemerintahan di mana pun di seluruh dunia cenderung ingin menguasai informasi untuk kepentingannya. Yang privat mau diintip, yang publik mau didekap erat. Lalu, quis custodiet ipsos custodes, siapa yang akan mengawasi pengawas? Itu kata Ensei Tankado.

Lalu apakah kita takut bertukar informasi? Apalagi akhir-akhir ini banyak sekali pembongkaran file dan dokumen yang tersimpan dan terlewatkan pada ponsel. Jangan khawatir, ada payung hukumnya. Kita hanya perlu sadar hukum dan cerdas menggunakan teknologi. Jangan gunakan teknologi yang bisa menyimpan data kalau Anda tak yakin bisa menghapusnya.

Takutlah hanya jika Anda tak tersinyali. Karena informasi penting yang tidak privat pun jadi berabe kalo tidak tersinyali.

(Tabloid SInyal edisi 10/III, Februari 2007)

« »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: