Ngeblog Lewat Ponsel

[dari ponsel, GPRS, lapangan futsal]

wordpress-mobile-logo.jpgIni jamannya orang awam mendokumentasikan serpihan pemikiran. Baik untuk keperluan pribadi maupun sengaja dibiarkan dibaca umum. Dan Internet menyediakan kesempatan luas untuk menyimpan dan menyebarluaskan. Blog mengemasnya dalam rupa yang cantik dan mudah dikelola. Mudah, cepat, apik.

Ditambah dengan kemudahan untuk bisa berinternet di ponsel, maka keleluasaan membuat orang makin menjadi-jadi dalam mengeblog-ria.

Dan inilah saya, sedang Blogging, mengetik beberapa kata di ponsel, untuk Blog ini. Tak ubahnya seperti ketika saya Blogging di komputer. Nanti akan saya lanjutkan lagi di kantor. Sekarang sebaiknya di-publish dulu deh…

Continue reading

Hidup Asyik Dinavigasi

nokia6110nav.jpgDi kota Gombong, Jawa Tengah, ada sebuah terowongan rel kereta api yang menembus bukit. Cukup panjang sehingga jika dilewati siang hari, kereta akan mengalami “kegelapan” sesaat. Sesaat yang panjang.

Berapa panjangnya? Saya tak tahu pasti. Tapi suka saya jadiin mainan. Caranya? Dengan menghitung berapa detik yang dibutuhkan dari ujung ke ujung, lalu mengasumsikan kereta berjalan 60km/jam. Dari situ biasanya saya dapatkan hitungan sekitar 60 detik. Jadi, panjang terowongan itu kira-kira 1 km. Ada yang bisa mengonfirmasi panjang sebenarnya?

            Kalau salah ya maafkan saya. Berarti asumsi kecepatan kereta yang ngawur hehehe… Maklum lah, saya tidak punya akses untuk mengetahui kecepatan kereta sebenarnya. Di lokomotif suka ada panel digital yang menyala merah untuk menunjukkan berapa kecepatan kereta api saat itu. Namun, jarang sekali mendapat kesempatan untuk mengakses lokomotif hanya untuk mengetahui kecepatan kereta.

       Continue reading

Hack dan Kewajiban iPhone

iphoneinterface.jpgSemakin tinggi pohon, semakin kencang angin meniupnya. Semakin ngetop iPhone, semakin deras nafsu untuk meg-hack-nya. Hanya butuh waktu 3 hari saja, maka iPhone bisa di-hack. Hasilnya adalah password di master root bisa dibaca.

Bagaimana caranya? Hacker tersebut me-rename restore image yang merupakan file bawaan iPhone dengan memberi ekstensi zip dan kemudian diekstrak. File tersebut berisi dua disk image .dmg, yaitu image dari sistem yang terenkripsi dengan password dan image pengguna yang tidak terenkripsi. Dengan mengoprek image yang tak terenkripsi itu maka sang hacker bisa menemukan bahwa semua ponsel iPhone dipasarkan dengan password yang telah ditentukan sebelumnya di account mobile dan root. Yang terakhir ini adalah merupakan nama account administrasi tersembunyi pada sistem berbasis UNIX.

Sang hacker kemudian menggunakan program UNIX sederhana, yaitu string untuk mengekstrak sederet string karakter yang bisa dipahami manusia, dari image disk tersebut. Isinya adalah sederet account pengguna dan daftar password yang terenkripsi masing-masing (sama dengan file /etc/passwd pada sistem UNIX atau Linux). Lantas penemuan ini diumumkan ke milis Full Disclosure agar ada yang bisa menjalankan peranti penguak password populer John the Ripper pada password yang terenkripsi tadi. Hanya butuh 60 detik bagi posting itu untuk mendapatkan jawaban sekaligus menguak misteri kedua password tersebut, yaitu berupa kata yang terdiri dari enam karakter dalam huruf kecil (lower case).

Continue reading

3

3GP adalah kependekan dari 3rd Generation Partnership Project, merupakan standar format file untuk video yang memungkinkan diputar di ponsel. Standar ini mulai diupayakan untuk digunakan secara luas di dunia terutama dalam pembuatan, pengiriman, dan pemutaran multimedia melalui teknologi 3G, sesuai namanya.
Agreement untuk berpartner ini mulai muncul Desember 1998 dan diformalkan dengan mendatangani “The 3rd Generation Partnership Project Agreement”. Anggota-anggotanya adalah badan-badan telekomunikasi seperti ARIB, CCSA, ETSI, ATIS, TTA, and TTC.

Format ini merupakan penyederhanaan dari format MPEG-4. keunggulannya adalah kebutuhan akan ruang simpan yang kecil karena file-nya memang menjadi kecil. Dampaknya, transfer melalui teknologi seluler juga meghemat bandwidth.
Ponsel-ponsel multimedia sudah banyak mengadopsi format ini. Contohnya adalah pada ponsel yang digunakan oleh Maria Eva untuk merekam adegan hot-nya melawan anggota DPR Yahya Zaini. Klip video ini segera beredar luas terutama melalui transfer dari satu ponsel ke ponsel lainnya.

Continue reading

JAMMING

Setiap kali Presiden Amerika Serikat, George W Bush, berkunjung ke suatu negara, pasti ia meminta jamming sinyal telepon seluler untuk daerah yang dikunjunginya. Ia memang paranoid terhadap teror bom, terutama dalam hal ini yang dipicu lewat ponsel. (Mungkin ia sadar diri sebagai presiden negara yang paling banyak punya musuh karena kebijakannya yang suka memusuhi.)

Padahal, di negeri Paman Bush sendiri, jamming sinyal seperti ini tidak bisa dilakukan secara sebarangan karena melanggar undang-undang. Di sana, barang siapa secara aktif kedapatan melakukan jamming, bahkan juga kedapatan “sekadar” membuat, memiliki, atau menjual alatnya akan didenda 11 ribu dolar atau penjara satu tahun.

Jamming aktif maksudnya adalah sengaja melakukannya di tempat publik yang bukan domain miliknya tanpa persetujuan resmi dari pemilik tempat. Beda dengan jamming pasif yang secara permanen melindungi tempat yang dimiliki seseorang dengan tujuan agar tidak ada sinyal keluar masuk tempat tersebut. Cara ini umumnya ditempuh oleh tempat-tempat ibadah, rumah sakit, bioskop, dan tempat-tempat lain yang membutuhkan ketenangan.

Continue reading

TELCO

• Hanya 25% perusahaan telekomunikasi (Telco) Indonesia yang memiliki database tunggal identitas pelanggan yang tunggal atau terintegrasi.
• Hanya 50% Telco di Indonesia memiliki database identitas pelanggan yang tunggal atau terintegrasi mulai dari call center sampai billing.
• 83% Telco di Indonesia tidak mendukung layanan aktivasi realtime dari call center. Ini mengakibatkan kehilangan kesempatan memeroleh pendapatan dan menyebabkan perpindahan pelanggan ke penyedia layanan lain yang mampu melakukannya.
• Hanya 26% Telco nirkabel dan 21% Telco broadband Asia Pasifik menawarkan jasa personalisasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pelanggan.
• Hanya 15% Telco nirkabel dan 16% Telco broadband Asia Pasifik menyediakan layanan berdasarkan profile pelanggan yang dimiliki, seperti pola hidup, kebiasaan, atau karakteristik sepsifik pelanggan.
• Hanya 9% Telco nirkabel dan 25% Telco broadband Asia Pasifik yang mampu membedakan dan mengelola account pengguna (user account) dengan pembayar (payer). Majoritas mengasumsikan bahwa pengguna dan pembayar adalah orang yang sama.
• Hanya 16% Telco nirkabel dan 24% Telco broadband Asia Pasifik mampu membagi tagihan berdasarkan produk dan layanan dan mengirimkan tagihan secara terpisah untuk pengguna dan pembayar.

Beberapa angka di atas merupakan hasil survei dari IDC dan Oracle yang tertuang pada White Paper “Getting Personal: Telco Customer Management Gets A Wake Up Call”. Survei ini diselenggarakan bulan Juni 2005 terhadap 59 perusahaan telekomunikasi di Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

***

Betapa bangganya kita ketika berada di sebuah warteg, apalagi warung yang sudah tenar masakannya, tinggal bilang “Biasa!”, dan segera terhidang menu yang menjadi favorit kita setiap makan di tempat itu. Kawan-kawan yang kita ajak makan akan terkagum-kagum akan “ketenaran” kita di tempat itu.

Jika warteg saja bisa melakukan itu, kenapa operator seluler yang memiliki sumber daya lebih canggih tidak bisa melayani pelanggan dengan personal macam itu? Mereka bisa memanfaatkan teknologi informasi yang akan membantu customer service untuk menyapa dan memerlakukan pelanggan dengan lebih personal.

Meja-meja dan alunan sapaan customer service akan menjadi medan perang perebutan pelanggan di masa depan. Di tangan mereka lah citra operator akan dipertauhkan. Layanan operator akan menjadi lebih kaya dan rumit, hanya customer service yang kompeten yang akan bisa mengikat pelanggan. Dukungan database yang akurat dan terpadu berada di balik kekuatan sapaan akrab tersebut.

(Majalah Sinyal edisi 6/II, April 2006)

Menempuh Jalan Setapak yang Sama

Masih ingatkah Anda dengan PC di tahun 80-an? Sistem operasinya DOS. Layar monokrom satu warna hijau kekuningan berlatar belakang hitam. Huruf-hurufnya Times New Roman bergerigi karena tersusun dari matriks titik-titik.

Kemudian muncul sistem operasi Microsoft Windows dibarengi dengan teknologi layar VGA yang sontak mengubah tampilan komputer menjadi lebih ‘manusiawi’. Karena jika dicetak hasil di layar tak beda jauh dengan hasil cetaknya, maka Bill Gates menyebutnya dengan ‘What You See Is What You Get’ alias WYSIWYG. Grafis menjadi antarmuka yang menarik sekaligus memudahkan pengguna komputer.

Sejak itu komputer berkembang pesat dan meriah dengan diadopsinya suara menjadi salah satu bentuk media yang bisa dimainkan oleh komputer dengan tambahan perangkat keras audio.

Sekarang komputer menjadi alat pertukaran data yang memuaskan lewat jaringan Internet. Jalur yang tersedia untuk lalu-lintas datanya juga berkembang dengan cepat. Dari hanya cukup untuk beberapa kilobit per detik, menjadi pita lebar yang bisa mengangkut gigabit per detik.

***
Perjalanan hidup yang mirip-mirip juga dialami oleh ponsel. Dari tampilan monokrom (hingga muncul trik pedagang untuk mengganti lampu backlight dengan warna-warna alternatif) menjadi layar yang mampu menayangkan belasan juta warna. Dari yang monofonik sampai bisa mendendangkan lagu-lagu berkualitas audio CD. Dari yang terbatas kepintarannya, sekarang ditopang dengan sistem operasi.

Dan sekarang, ponsel juga bisa mengirimkan apa yang bisa dihasilkan di dalamnya melalui jaringan datanya yang juga bermuara ke Internet. Bahkan jika dituruti, kecepatan transfer datanya bisa melebihi broadband Internet. Integrasi dengan PDA menyempurnakannya dengan kemampuan pengolahan data dan tampilan lebih lega.

Tulisan renungan ini dengan mungkin bisa mewakili menunjukkan kapabilitas dan kecanggihan tersebut karena ditulis di atas kereta yang sedang melaju kencang di jalur Jogja-Jakarta. Rencananya, nanti akan segera dikirim ke bagian artistik untuk ditata lewat GPRS. Tentu saja hanya jika mendapat sinyal.

(Majalah Sinyal edisi 1/II, Oktober 2005)