Novel Eksklusif Dewi Lestari Hadir di 3G XL

Dewi Lestari

Jakarta, 2 Mei 2008. PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) tetap konsisten menghadirkan inovasi layanan untuk pelanggannya. Hal ini diwujudkan dengan dihadirkannya novel karya novelis terkenal Dewi ”Dee” Lestari ” Perahu Kertas” secara eksklusif di situs WAP XL 3G sejak awal April lalu. Konten ini eksklusif hanya dapat diakses oleh pelanggan XL sebelum novel ini diedarkan di pasar pada bulan Oktober mendatang.

GM New Services Development, Suanta P Bukit menyataka,” Novel ”Perahu Kertas” merupakan konten terbaru WAP XL 3G yang kami tampilkan guna memberikan variasi dan inovasi atas konten WAP XL 3G. Diharapkan konten ini dapat menjadi hiburan baru bagi pelanggan XL disaat mereka mobile. Kami optimis konten ini akan digemari pelanggan XL mengingat reputasi Dewi Lestari dalam menelurkan novel-novelnya selama ini sudah tidak diragukan lagi. ”

Continue reading

Ngeblog dg AXIS dari Jogja

Ini lagi nyobain axis dr Sta Tugu jogja.. Fyi, axis blm dilaunch di Jogja.. Jd ini critanya nyuri start. Kartu yg dipake juga kartu Bandung hasil pemberian Mba Anita AXIS.. Thx Mba.. Sinyalnya mayan, meski blm rata di seantero Jogja. Daerah sta Tugu ini termasuk yg terkuat.. Sayang ga bisa capture speedtest bandwidth.. HP-nya Nokia N95..

XL-E220

e220-kontras1.pngAkhirnya dapet juga pinjeman data card dari Mbak Arum Prasodjo, PR XL yang kalau sudah nyanyi akan bikin orang termehek-mehek (sambil berharap dia mau nyanyi lagi pas ngemsi di acara-acara XL). Pertama buka tas plastik yang membungkusnya, agak kaget, kirain dia iseng ngirim film DVD. Habis, kemasannya mirip boks untuk DVD original. Menarik.
Kemasannya masih segelan utuh (ngambil dari gudang langsung kayanya :p), jadi awalnya merasa sayang untuk merusak segelnya. Walaupun akhirnya toh harus dibuka oleh sebab karena because, seperti kata-kata teman-teman di laboratorium kantor: “demi ilmu pengetahuan”.

Di kiri atas sampul depan tertera logo XL dengan tambahan tagline “3G Ready”. Lalu di bawahnya agak ke kanan ada kecapan: Mobile data connection at indredible speed. Arti ngawurnya kurang lebih: koneksi data secara mobile yang “nggegirisi” alias mencengangkan. Tidak percaya? Baca di pojok kiri bawah, di situ terdapat keterangan teknis yang berbunyi: XL-E220, 3G HSDPA/UMTS USB Modem. Dengan tambahan: Maximum Speed 3.6Mbps.

Continue reading

3

3GP adalah kependekan dari 3rd Generation Partnership Project, merupakan standar format file untuk video yang memungkinkan diputar di ponsel. Standar ini mulai diupayakan untuk digunakan secara luas di dunia terutama dalam pembuatan, pengiriman, dan pemutaran multimedia melalui teknologi 3G, sesuai namanya.
Agreement untuk berpartner ini mulai muncul Desember 1998 dan diformalkan dengan mendatangani “The 3rd Generation Partnership Project Agreement”. Anggota-anggotanya adalah badan-badan telekomunikasi seperti ARIB, CCSA, ETSI, ATIS, TTA, and TTC.

Format ini merupakan penyederhanaan dari format MPEG-4. keunggulannya adalah kebutuhan akan ruang simpan yang kecil karena file-nya memang menjadi kecil. Dampaknya, transfer melalui teknologi seluler juga meghemat bandwidth.
Ponsel-ponsel multimedia sudah banyak mengadopsi format ini. Contohnya adalah pada ponsel yang digunakan oleh Maria Eva untuk merekam adegan hot-nya melawan anggota DPR Yahya Zaini. Klip video ini segera beredar luas terutama melalui transfer dari satu ponsel ke ponsel lainnya.

Continue reading

Geliat Asia Pasifik

Kita sedang memasuki era keterhubungan yang menghapuskan jarak, lokasi, dan waktu. Terakhir kita menyaksikan perubahan mendasar seperti itu adalah ketika GSM hadir dengan Eropa sebagai pemimpinnya pada awal 90-an. Kini, Asia Pacific, termasuk Cina, menjadi pusat perhatian karena mengambil-alih kepemimpinan penguasaan pertumbuhan pelanggan. Penetrasi ponsel di Asia Pasifik diharapkan menjadi basis kontributor utama terhadap pertumbuhan pengguna peranti mobile global yang diperkirakan akan melampaui angka 2 miliar dolar AS pada akhir 2005.

Pada tahun 2010, Nokia memperkirakan pengguna ponsel akan mencapai jumlah 3 miliar, meningkat pesat dibanding tahun 2004 yang mencapai 1,7 miliar. Dari angka tersebut, hampir setengahnya diharapkan akan muncul dari Asia Pasifik, termasuk Cina.

Dalam WCDMA, saat ini sudah ada 11 jaringan 3G yang sudah komersial di Asia Pasifik. Tampak jelas bahwa Jepang dan Korea yang menjadi pasar ponsel utama di kawasan ini sedang mengemban tampuk kepemimpinan 3G. Pasar lain seperti Singapura, Australia, dan Malaysia juga menunjukkan potensi pengembangan 3G yang signifikan.

Pada medan CDMA, Asia Pasifik saat ini merupakan kawasan pertumbuhan nomor dua terbesar setelah Amerika Latin dan enam operator CDMA terbesar di dunia berasal dari Asia Pasifik. Nokia memperkirakan bahwa kawasan ini akan menguasai sepertiga dari seluruh handset CDMA dunia pada akhir 2005.

Pasar kunci CDMA Nokia yang berada di India, Cina, Indonesia, Australia, dan Selandia Baru telah tumbuh secara signifikan sepanjang dua tahun lalu. Dan Nokia sekarang memimpin pasar CDMA di Indonesia, Australia, dan Selandia Baru.

***

Petikan di atas adalah pidato Urpo Karjalainen, Senior Vice President, Nokia Customer & Market Operations, Asia Pasific Area. Pidato ini disampaikan pada forum Nokia Connection 2005: Live Connected yang berlangsung 13-14 Juni di Singapura, paralel dengan ajang pameran dagang CommunicAsia.

Event CommunicaAsia dan Nokia Connection ini, diperkuat dengan statement Nokia tersebut, menunjukkan bahwa kita di Indonesia masuk di dalam pusaran arus deras industri ponsel dunia. Jika ekonomi kita bagus, dan kita punya daya beli yang tinggi, alangkah indahnya keterhubungan dan seliweran informasi seperti ini. Yang kita harap adalah arus deras komunikasi ini justru bisa mengangkat ekonomi kita ke level yang lebih baik.

(Majalah Sinyal edisi 10/I, Juli 2005)

3G Or Not 3G?

Pertanyaan itu mungkin seharusnya ditanyakan beberapa tahun lalu. Namun di kalangan masyarakat sekarang ini justru pertanyaan itulah yang sedang menggantung bagai mendung yang membuncahkan seribu tanda tanya akan datangnya hujan. Ya, karena mendung tak berarti hujan.

Padahal sekarang ini kondisinya sudah tak memungkinkan lagi untuk mundur dari 3G. Lisensi 3G sudah diberikan kepada beberapa perusahaan, yang sayangnya bukan operator yang menunjukkan tanda-tanda berpengalaman pada industri seluler, apalagi 3G. Operator incumbent yang berpengalaman dan punya duit justru dibiarkan gigit jari sambil terus mengemis lisensi.

“Frekuensi 3G” malah sudah dibagi-bagi jauh-jauh hari, mungkin tanpa banyak disadari.

***

Seperti ditulis pakar telekomunikasi Onno W. Purbo di Kompas, 4 April 2005, ada beberapa operator sudah beroperasi dan memperoleh tambahan frekuensi 3G setelah operasi, yaitu Telkom (FWA TelkomFlexi CDMA 1X 1,9 GHz) dan Indosat (FWA StarOne CDMA 1X 1,9 GHz) tahun 2002. Sedangkan NTS di 2 GHz tahun 2004. Tahun 2000, TelkomSel, Excelcom, dan Indosat memperoleh 1,8 GHz. Tahun 2004, Excelcom memperoleh tambahan untuk TDD di 2 GHz.

Ada pula perusahaan yang sudah mendapatkan lisensi dan frekuensi 3G, tetapi belum beroperasi, yaitu WIN (1,9 GHz), Primasel (1,9 GHz), dan termasuk CAC (2 GHz). Beberapa catatan tambahan, WIN memperoleh lisensi komunikasi data (bukan seluler) dan frekuensi 3G di tahun 2001. Primasel memperoleh lisensi seluler dan frekuensi 3G di tahun 2004. Sedangkan CAC memperoleh lisensi seluler dan frekuensi 3G di tahun 2003.

Jadi boleh dibilang, kita sudah ber-3G-ria. Apalagi kalau kita alihkan perhatian ke jagad CDMA yang teknologi CDMA 2000 1x-nya sudah masuk generasi ketiga. Sedang 3G versi GSM memang masih menjadi mimpi indah.

(Majalah Sinyal edisi 8/I, Mei 2005)