Lombok

tajuk36.jpgCuaca Lombok setelah bulan purnama di bulan kesepuluh penanggalan suku Sasak biasanya diliput oleh mendung dan hujan deras. Cuaca ini menjadi penanda alam bagi saat yang mereka tunggu-tunggu: munculnya nyale di bibir pantai. Nyale alias cacing ini konon berasal dari rambut Putri Mandalika yang bunuh diri demi ketentraman masyarakat. Maka setiap tahun, yang kali ini jatuh pada tanggal 27-28 Februari, masyarakat Sasak menyelenggarakan upacara untuk menangkap nyale tersebut, yang mereka sebut dengan “Bau Nyale” alias menangkap cacing.

Datangnya hujan sebagai pertanda baik juga dipercayai oleh banyak orang. Maka ketika “poolside party” di pinggir pantai Senggigi yang agendanya mendengarkan paparan dari Direktur XL, Pak Hasnul Suhaimi, mengenai kinerja XL tahun 2007 dan projeksi tahun 2008 ini diguyur hujan, para wartawan yang hadir tetap santai. Baru setelah hujan deras menghasilkan tampias ke mana-mana, ngobrol-ngobrol dilanjutkan di dalam restoran hotel Sheraton Senggigi.

Lombok merupakan kawasan yang sangat bermakna bagi XL. Kencono Wibowo, Vice President Region East Area, bahkan bercanda bahwa bila dari 10 orang Lombok, yang menggunakan XL ada 11 orang. Ini memang terbukti ketika kemudian kami berkeliling kota, bahkan menyeberang ke Gili Trawangan, sebuah pulau kecil andalan pariwisata Lombok terutama bagi kaum bule. Berselancar dengan GPRS di pulau yang relatif terpencil ini juga merupakan pengalaman mengasyikkan karena ngebut dan tak terputus. Tak masalah bahwa di pulau ini tidak keberadaan kendaraan bermotor diharamkan, toh dengan komunikasi data seluler, kita bisa “terbang” jauh melalui dunia maya. Bahkan, Lombok sudah didukung oleh jaringan 3,5G XL. Apalagi, suasana sangat kondusif untuk menggenjot ide-ide dan inovasi-inovasi yang segar.

Menurut Kencono, pengguna XL di Lombok sudah mencapai satu juta, sementara penduduk Lombok hanya sekitar 2 juta orang. Artinya, sekitar 50% pasar di pulau indah ini dikuasai oleh XL.

Sedang Hasnul memaparkan keberhasilan XL tahun 2007 dalam tiga parameter utama: pelanggan naik 62%, pendapatan naik 38%, dan EBITDA naik 37%. Pelanggan XL sampai akhir 2007 mencapai 15,5 juta. Sebagai pembanding, Indosat meraup 23,7 juta, dan Telkomsel menggaet 47,8 juta pelanggan.

Di tahun-tahun mendatang, menurut Hasnul, karena kompetisi berdasarkan cakupan dan jangkauan sudah tidak lagi signifikan, operator akan bertarung dalam memberi pelayanan kepada pelanggan, lebih dari sebelumnya.

Ada tuntutan sebagian masyarakat agar tarif bisa lebih murah. Apalagi operator juga sudah “memberi contoh” dengan menurunkan tarif. Malah disertai dengan perang murah-murahan di medan detik-detikan. Padahal menurut Hasnul, Indonesia merupakan negara dengan tarif seluler, baik voice maupun SMS, yang telah kompetitif. Untuk SMS, Indonesia merupakan negeri dengan tarif termurah nomor 34 dari 187 negara, dengan tarif rata-rata Rp 321. Sedang dalam soal voice, kita termurah ke-26 dari 195 negara.

***

Ada dua negara besar yang menyuburkan tarif seluler murah, yaitu Cina dan India. Keduanya memiliki beberapa karakteristik yang kurang lebih sama dengan Ibu Pertiwi, yaitu berjumlah penduduk sangat besar dan lapisan masyarakat bawahnya masih tebal. Syukurlah jika dalam soal sambungan seluler mereka dan kita tersinyali dengan tanggungan ongkos cukup murah. Semoga jumlah penduduk yang berarti pasar menggiurkan ini juga mampu mendorong tarif untuk terus terjun.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: