Futsal dan Ponsel

futsalavatar2.jpgKali ini kita tidak bicara yang jauh-jauh, yang gede-gede, yang global-global, yang massif-massif, yang bikin dahi mengerenyit, yang jauh dari keseharian, yang mengawang-awang.

Kantor Tabloid Sinyal, yang “basodara” dengan Majalah InfoKomputer, Tabloid PCplus, dan Tabloid Rumah sedang demam futsal. Kami menggelar pertandingan “lucu tapi serius” antarbagian, dimulai sejak minggu terakhir Januari lalu.

Fun, adalah sensasi utama yang dirasakan oleh teman-teman di kantor ini. Terutama justru dirasakan oleh teman-teman yang belum pernah menginjak lapangan futsal sama sekali, meski sudah diseret-seret dan didorong-dorong bagaikan truk mogok untuk diajak ikut bermain rutin oleh para pemain tim utama yang sudah terbentuk sejak satu setengah tahun lalu. Maka tak heran jika rombongan para ceweknya juga ikut tergeletar oleh sensasi yang sama, dan minta dibikinin turnamen juga.

***

Ada beberapa fenomena yang membuat futsal begitu menarik di tengah hegemoni sepakbola tradisional yang sudah terlanjur berakar dan gegap gempita di seluruh dunia.

Futsal merupakan jawaban atas makin terdesaknya lahan untuk bermain sepakbola. Futsal menjawab kesempitan kesempatan karena bisa dilangsungkan 24 jam karena dimainkan di ruangan. Futsal juga lebih elegan baik secara tampilan fisik lapangan-lapangannya maupun peraturan pertandingan yang mengharamkam kontak fisik yang intens. Futsal lebih ringkas, tidak membutuhkan persiapan besar-besaran untuk memainkannya. Futsal lebih luwes karena jika tak sanggup membayar lapangan yang mahal, Anda bisa menggunakan lapangan basket, atau bahkan parkiran mobil, untuk memainkannya.

Mungkin masih banyak fenomena dan indikator lain, namun benang merahnya adalah bahwa futsal dapat dimainkan dengan tidak seribet memainkan sepakbola tradisional. Banyak orang yang ingin main sepakbola, namun tak tahan dengan keribetannya.

***

Kesederhanaan, keringkasan, dan keluwesan pula yang mengantar ponsel melesat menjadi populer mengalahkan banyak peranti komunikasi dan hiburan lainnya. Malah justru banyak peranti elektronik yang dipaksa diadopsi ke ponsel: radio, music player, TV, GPS.

Ketika ponsel marak, wartel meredup dan gulung tikar. Padahal wartel dulu adalah “jembatan antara” untul menuju mobilitas komunikasi: orang tidak perlu pulang dulu ke rumah hanya untuk menelepon, bisa menyewa telepon di wartel yang bertebaran di setiap ruas gang atau jalan. Namun, ketika “si mungil dan luwes” ponsel datang, wartel yang gigantik dan massif tersingkir.

Futsal dan ponsel memberi ruang dan kesempatan baru yang “equal” alias sama bagi banyak orang. Bahkan, hanya dalam futsal, Tim Nasional Futsal Indonesia bisa mengalahkan tim Inggris dengan angka telak 7-2 di Turnamen KL5 di Kuala Lumpur, Malaysia, akhir Januari lalu.

Ponsel yang lebih cepat proliferasinya kita harap juga memberi kecepatan bergerak yang sama kepada masyarakat kecil, sama seperti ruang gerak yang dimiliki oleh “masyarakat besar” sebelumnya. Baik kecil atau besar sama-sama tersinyali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: