EBITDA

tajuk23-ebitda.jpgMenurut Dr. Nuzul Achjar dari LPEM-UI, tarif di Indonesia belum kompetitif akibat tidak adanya persaingan yang efektif di industri selular. Salah satu indikasi bahwa persaingan di Indonesia belum berjalan efektif bisa dilihat dari EBITDA (earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization) operator yang tinggi. “Profit yang tinggi mengindikasikan performance pasar yang buruk,” ujarnya.

Jika dilihat dari EBITDA masing-masing operator, Telkomsel yang tertinggi. Per September 2006, EBITDA Telkomsel mencapai Rp 15 miliar. Angka ini tiga kali lipat dari EBITDA Indosat, dan hampir lima belas kali lipat EBITDA XL. Rasio EBITDA terhadap pendapatan tahun 2006 adalah 73% untuk Telkomsel, 58% untuk Indosat, dan 57 persen terhadap rasio.

EBITDA yang tinggi bisa dipengaruhi oleh beberapa hal. Di antaranya, efisiensi yang tinggi atau karena kekuatan pasar (market power) yang dimiliki. Dari hasil kajian akademis Institute for Development of Economics and Finance (Indef), EBITDA yang tinggi di industri selular bukan karena faktor efisiensi yang tinggi, melainkan akibat kekuatan pasar yang dimiliki oleh perusahaan dalam menetapkan harga.

Dalam hal ini, Fadhil Hasan, direktur utama PT Indef Eramadani (Indef), menduga posisi cross ownership dan dominasi Temasek dalam industri telepon selular menjadi salah satu penyebabnya. “Adanya cross ownership mempermudah terjadinya pertukaran informasi mengenai strategi bisnis dan pemasaran, termasuk strategi penentuan harga. Ini akan mendorong terjadinya perilaku oligopoli, kartel, dan cross subsidy,” jelas Fadhil. Ia menambahkan, operator selalu berdalih tingginya tarif yang mereka terapkan adalah untuk menutup biaya infrastruktur, terutama untuk memperluas jaringan.

Berita di atas sebagian besar diambil dari Warta Ekonomi (www.wartaekonomi.com) Selasa, 7 Agustus 2007.

 

***

Dari sisi investasi, EBITDA yang (masih) tinggi mungkin akan sangat menggiurkan investor. Keuntungan investasi membayang.

Sedang sebagian besar pelanggan tidak tahu apa EBITDA. Mungkin mereka tidak “ngeh” bahwa EBITDA ini adalah variabel yang bisa dimainkan untuk membuat tarif menjadi murah. Mereka berharap bahwa tarif akan lebih murah namun tidak tahu bahwa operator sangat mungkin melakukannya karena EBITDA yang masih tinggi. Mereka tidak tahu bahwa jika operator rela memperkecil keuntungan atau menurunkan EBITDA yang dikeruk, maka tarif akan menjadi lebih murah. Namun umumnya operator masih bersikukuh mengeruk pendapatan dari EBITDA. Dan mengeruk model itu namanya maruk.

Tidak boleh maruk ya? Boleh saja sih, misalnya dalam hal menyinyali. Seperti kami yang terus senantiasa setia menyinyali.

[Tajuk Tabloid Sinyal ed 23/III, 23 Agustus-5 September 2007]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: