ON-NET

money_pyramid.jpgTarif murah. Sejak dahulu kala, mantra ini laris manis digunakan operator seluler untuk menggenjot penyerapan pasar kartu-kartunya. Apalagi jika memang kartunya sejak awal sudah didaulat sebagai kartu untuk golongan menengah ke bawah.

Dan operator punya aji pamungkas untuk membiuskan mantra-mantra itu ke pelanggan dan calon pelanggan. Senjatanya adalah menggunakan skema tarif on-net alias jaringan operator sendiri. Terutama karena tidak harus membayar ongkos interkoneksi ke operator lain, maka tarif lantas bisa dipangkas secara signifikan. Malah sepertinya juga tak ada pakem yang pasti pada level berapa tarif koneksi melalui jaringan sendiri ini harus di-pricing.

Maka tak heran jika kemudian televisi, koran, radio, majalah, tabloid, dan billboard di pinggir jalan dipenuhi dengan iklan promosi tarif yang sangat irit. Telkomsel memerkuat positioning sebagai penagih pulsa berdasarkan detik dengan tarif 20 rupiah per detik dalam “Kartu As Rp 20 per Detik, Puas”. Indosat melalui kartu Mentari menggelar “Pulsa Lokal Luar Biasa Hemat Rp 50/30 Detik”. XL menyodok dengan “bebas edisi Emas” yang mematok 10 rupiah per detik untuk telepon ke sesama XL. Sedang operator GSM baru, 3, langsung membuat panas suasana karena mematok tarif on-net sebesar Rp 150/menit alias Rp 2,5/detik, baik lokal maupun interlokal. Esia sudah lama mengusung tarif murah ke sesama Esia dengan ongkos Rp 3.000/jam. Fren (Mobile-8) sukses dengan tarif Rp 7/detik, kemudian ketagihan dan lantas menurunkannya menjadi Rp 5/detik.

Coba simak ilustrasi angka-angka dari dua operator yang dalam laporan usahanya mencantumkan aspek-aspek biaya interkoneksi berikut ini:

  • Telkomsel: pendapatan operasi bersih kuartal 3 tahun 2006 adalah 20,916 milyar rupiah dengan transaksi interkoneksi sebesar 5,151 milyar rupiah (yang berupa pendapatan dari interkoneksi 2,687 milyar rupiah dan pembiayaan interkoneksi 2,464 milyar rupiah). Artinya, sekitar 25% transaksi adalah interkoneksi. Artinya lagi, 75% adalah merupakan transaksi on-net.
  • XL: pendapatan operasi bersih kuartal 4 tahun 2006 adalah 4,682 milyar rupiah dengan transaksi interkoneksi sebesar 2,121 milyar rupiah (yang berupa pendapatan dari interkoneksi 1,025 milyar rupiah dan pembiayaan interkoneksi 1,096 milyar rupiah (dihitung kasar karena bercampur dengan biaya-biaya lain)). Artinya, sekitar 45% transaksi adalah interkoneksi. Artinya lagi, 55% adalah merupakan transaksi on-net.

***

Cintailah sesamamu, atawa teleponlah sesamamu, anjur operator. Bagi operator, makin banyak percakapan dan SMS yang muter-muter di jaringan mereka sendiri akan lebih baik karena mereka tak repot menguras pundi-pundi untuk membayar interkoneksi. Makin banyak yang tertarik untuk menggunakan kartu secara “persesamaan” alias on-net ini juga akan pelan tapi pasti menarik pelanggan-pelanggan baru.

Hanya saja, janganlah persaingan program tarif sesama operator ini mengabaikan kualitas layanan. Jangan sampai mereka berkonsentrasi mengurus gimmick murah-murahan ini sehingga lupa menyinyali dengan senantiasa dan sepenuh hati.

(Tabloid Sinyal edisi 15, Mei 2007)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: