SMS Rasa Propaganda

Ponsel Rola Dashti berdering di petang yang gerah di tanggal 7 Maret 2005. Perempuan ini baru saja memimpin demonstrasi terbesar dalam sejarah Kuwait tentang hak kaum perempuan untuk memberikan suara dalam pemilihan umum, yang kemudian dibubarkan oleh Ketua Parlemen Jassem Kharafi.

Ia kemudian memencet tombol membaca pesan SMS di ponselnya, dan membaca pesan yang pada saat yang sama sedang beredar di ribuan ponsel di Kuwait. Isinya berisi cercaan terhadap status keluarganya yang merupakan keturunan Persia dan ibunya yang kelahiran Lebanon. “Kalau Anda memilih Rola Dashti, maka inilah yang akan terjadi: Anda akan belajar akses Iran. Anda akan belajar akses Lebanon. Dan Anda akan belajar berkongsi dengan Kedutaan Amerika untuk mendapatkan duit.” Begitu bunyi SMS yang beredar.

Maka pada malam yang sama, kelompok perempuan ini juga membalas Jassem Kharafi dengan menyebarkan SMS tuduhan bahwa ia lebih tertarik mengeruk duit dari kontrak-kontrak bisnis dibanding mendukung reformasi demokratis di Kuwait. “Jika hak politik perempuan ingin mendapat dukungan dari Kharafi, jadikanlah ia sebagai penawaran kontrak bisnis,” tulis SMS yang beredar tersebut.

Seharga 40 sen per kirim, SMS merupakan cara yang tidak murah untuk memobilisasi massa. Namun itu tak masalah bagi penduduk negeri kaya minyak ini. Dalam kondisi demokrasi yang masih represif seperti di negeri ini, para aktivis merasa sulit untuk menyusun materi kampanye tanpa tergunting oleh pisau sensor.

Dengan artikel panjang soal penggunaan pesan teks alias SMS di negeri-negeri Teluk, Washington Post (29/04/2005) melukiskan bahwa SMS menjadi alat yang ampuh di negeri-negeri ini untuk menggalang dukungan dan melancarkan propaganda.

Bahkan propaganda melalui SMS ini sudah menjadi bisnis tersendiri. Sampai-sampai dulu sempat beredar CD berisi daftar nomor telepon seluler yang diperjualbelikan. Namun sekarang malah operator menyediakan layanan spam SMS ini. “Cukup berikan isi pesannya, maka operator akan mengirimkannya kepada 40 ribu nomor,” ungkap Mohammed Dallal, seorang manajer kampanye jaringan Moslem Brotherhood di Kuwait.

***
Kampanye dan propaganda melalui SMS juga berlangsung di Tanah Air. Ada yang bertanggung jawab dengan terang-terangan mencantumkan identitas, misalnya Presiden RI ketika mengajak memberantas narkoba, beberapa waktu lalu.

Namun ada yang tidak jantan dan pengecut dengan mengajak membunuhi etnis tertentu. Ya, banyak kalangan sempat dibuat resah dengan SMS yang berbahaya ini. Mau tidak percaya tetap terasa sulit bagi etnis yang menjadi sasaran tembak ini. Mereka punya trauma berat peristiwa yang sama beberapa tahun silam.

“Mas, benarkah SMS itu?” tanya seorang teman yang sedang berada di luar negeri, mengkhawatirkan keluarga dan handai taulannya di Tanah Air. Tentu maunya kita menjawab tidak. Seraya berharap bahwa kehebohan ini hanya karena kepintaran memilih topik saja, topik yang pasti akan sangat laku dan cepat menyebar. Seraya berharap bahwa pengarang SMS-nya hanyalah pengecut tak bertanggung jawab yang ingin memanfaatkan sisa waktu menggunakan kartu prabayar tak terdaftar.

Seraya berharap bahwa bangsa kita senantiasa tersinyali oleh SMS yang penuh kasih dan konstruktif.

(Majalah Sinyal edisi 3/II, Desember 2005)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: