Serangan Fajar

Pagi menjelang pemilihan umum, pemilihan kepala daerah, atau sekadar pemilihan carik desa, sering ada “serangan fajar”. Pagi-pagi betul, tim sukses seorang kandidat berkeliling kampung sambil membagikan amplop berisi uang, dengan anjuran agar memilih kandidat dari mana isi amplop tersebut bersumber. Uang merupakan “kartu as” untuk menarik “simpati” seluruh kampung.

Mereka melangkah tergesa. Mereka dikejar waktu. Sebelum matahari melampaui penggalah, sebelum embun disengat “mentari”, saat ketika vox populi dikonversi menjadi vox Dei, serangan harus sudah menikamkan citra keunggulan kandidatnya ke benak semua “populi”.

Mungkin Anda kenal Wakidjan yang suka bilang dengan ngawurnya: “His name is also effort.” Maksud dia: “Namanya juga usaha.” Tak ada jaminan bahwa serangan mereka akan menghasilkan gol. Pemilih masih “bebas” menentukan pilihan di luar tekanan atau serangan fajar tersebut. Dan kalau pemilih memutuskan lain, tim sukses tersebut hanya bisa menggigit “jempol” karena amplop-amplop mereka melayang tanpa hasil.

***

Menjelang tanggal 28 April lalu, operator berlomba-lomba menghimbau agar pengguna kartu prabayar mendaftarkan diri. Bukan sekadar menghimbau, namun mereka juga berusaha agar kartu yang didaftarkan sebagai kartu default pengguna adalah kartu prabayar dari operator tersebut.

Selain memberi berbagai insentif jika melakukan pendaftaran ada operator yang memberi layanan percakapan murah atau gratis di tengah malam. Ada yang menawarkan SMS irit. Ada pula yang aktif mengunggulkan kartu pascabayarnya, toh sama-sama harus regisrasi.

Jika bulan-bulan lalu adalah hari-hari adu strategi operator dalam mengampanyekan produknya, maka menjelang tanggal 28 April mereka makin kepepet dan melakukan banyak “serangan jafar”.

***

Pasca 28 April, akankah ada puja-puji dan berbagai tawaran untuk kebahagiaan pelanggan? Semoga masih. Dan seharusnya memang masih karena operator tetap butuh mempertahankan dan meningkatkan jumlah pelanggan. Registrasi tidak serta merta meniadakan churn atau kaburnya pelanggan, ia hanya menghambatnya dengan sedikit kerepotan.

Pasca 28 April, pelanggan tetap butuh “serangan fajar”, dan segala iming-iming yang bisa diberikan. Pelanggan berhak memilihnya, dan meninggalkannya jika iming-iming itu hanya merupakan permen yang cepat habis diisap.

(Majalah Sinyal edisi 8/II, Mei 2006)

One Response

  1. Yang menciptakan para koruptor2, pada dasarnya masyarakat itu sendiri,
    karena setiap adanya pemilihan, hampir 90 % masyarakat mengharapakan serangan fajar dari kandidatnya,
    so ga salah mereka yanng naik berpikir untuk mengembalikan modal serangan fajar mereka.
    Salah satunya, ya dengan korupsi gitu loh!
    Tidak ada yang tau ,mau jadi apa bangsa ini!sudah tidak ada lagi kejujuran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: