JAMMING

Setiap kali Presiden Amerika Serikat, George W Bush, berkunjung ke suatu negara, pasti ia meminta jamming sinyal telepon seluler untuk daerah yang dikunjunginya. Ia memang paranoid terhadap teror bom, terutama dalam hal ini yang dipicu lewat ponsel. (Mungkin ia sadar diri sebagai presiden negara yang paling banyak punya musuh karena kebijakannya yang suka memusuhi.)

Padahal, di negeri Paman Bush sendiri, jamming sinyal seperti ini tidak bisa dilakukan secara sebarangan karena melanggar undang-undang. Di sana, barang siapa secara aktif kedapatan melakukan jamming, bahkan juga kedapatan “sekadar” membuat, memiliki, atau menjual alatnya akan didenda 11 ribu dolar atau penjara satu tahun.

Jamming aktif maksudnya adalah sengaja melakukannya di tempat publik yang bukan domain miliknya tanpa persetujuan resmi dari pemilik tempat. Beda dengan jamming pasif yang secara permanen melindungi tempat yang dimiliki seseorang dengan tujuan agar tidak ada sinyal keluar masuk tempat tersebut. Cara ini umumnya ditempuh oleh tempat-tempat ibadah, rumah sakit, bioskop, dan tempat-tempat lain yang membutuhkan ketenangan.

Jamming jenis terakhir ini justru sangat dibutuhkan karena semua orang akan memaklumi kebutuhan penghuni di dalamnya akan ketenangan. Betapa sedihnya saat pasien tidak bisa tidur karena gangguan nada dering dari pengunjung lain atau sesama pasien lain. Betapa gondoknya ketika suara flute yang sedang mengalun lembut di gedung konser ditimpali dengan dering ponsel yang disetel kencang. Dan betapa tak etisnya ketika suara ponsel memusnahkan kekhusyukan umat di rumah ibadah.

Namun dalam kasus jamming sinyal di Bogor nanti, jika jadi diberlakukan, adalah jamming aktif yang dilakukan di ruang publik. Jika di negerinya sendirinya pun dilarang, mengapa Paman Bush masih juga memaksakan agar diterapkan di kandang orang lain? Jika haknya untuk mendapatkan sinyal ponsel di negerinya dia tuntut, mengapa ketika berada di negeri orang, dia tidak menghormati hak masyarakat setempat untuk mendapatkan sinyal?

(Tabloid Sinyal edisi 4/III, November 2006)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: