Bahan Pokok Kesepuluh

Menteri Perdagangan Mari E. Pangestu mengatakan persediaan kebutuhan bahan pokok selama bulan Ramadhan, Lebaran 2005, hingga Natal dan Tahun Baru 2006 mencukupi dan sangat aman.

Hingga akhir tahun 2005, lanjut Mari, konsumsi beras secara nasional diperkirakan mencapai 30,6 juta ton, sedangkan total produksi mencapai 32,2 juta ton. Dengan demikian, stok hingga akhir tahun mencapai 2,52 juta ton, ditambah dengan stok nasional di Bulog sebesar 1,495 juta ton sehingga mencukupi hingga delapan bulan berikutnya.

Sedangkan stok gula per September 2005 mencapai sekitar 1,13 juta ton, sehingga dengan perkiraan kebutuhan 250.000 kilogram masing-masing untuk bulan Oktober dan Desember yang lebih tinggi dari biasanya karena Ramadhan, Lebaran dan Natal, dan maka stok dipastikan cukup hingga akhir tahun.

Sementara itu, stok minyak goreng di dalam negeri secara nasional diperkirakan mencapai 3,5 juta ton, sedangkan kebutuhan untuk konsumsi mencapai 2,78 juta ton, sebanyak 0,72 juta ton untuk keperluan industri.

Ia menjelaskan, pasca kenaikan harga BBM 1 Oktober 2005, harga-harga sembako di pasar tidak mengalami lonjakan harga yang signifikan, terkecuali cabe merah yang sempat naik hingga Rp40.000 per kilogram.

Lebih lanjut dijelaskan, di luar cabe merah, komoditi yang harganya meningkat adalah beras dan minyak goreng, meski secara rata-rata nasional hanya naik sekitar Rp100-Rp200 per kilogram. Demikian juga dengan gula pasir, hanya meningkat sekitar Rp500 per kilogram menjadi sekitar Rp5.500 per kilogram.

Ia menjelaskan, untuk mengatasi kenaikan harga lebih lanjut, pemerintah akan melakukan operasi pasar (OP) khusus komoditi beras pada harga Rp3.500 per kilogram, gula pada harga Rp5.500 per kilogram, dan minyak goreng pada Rp6.000 per kilogram.
 Laporan situasi logistik tersebut adalah cuplikan dari berita Antara tanggal 4 Oktober 2005. Sudah menjadi tradisi setiap menjelang hari-hari besar, terjadi lonjakan kebutuhan sembako. Sembilan bahan pokok tersebut terdiri atas: beras, tepung terigu, gula pasir, sabun, minyak goreng, ikan,telur, daging, dan garam.

***

Situasi yang sama terjadi di bisnis seluler. Operator juga harus menyiapkan logistik cadangan untuk antisipasi lonjakan percakapan telepon seluler maupun SMS pada hari-hari penting tersebut. Para operator itu menambah SMS Center untuk dapat menampung banjir SMS ucapan terutama di H-1 sampai H+1.

Operator juga punya hajat rutin untuk merayu pelanggan baru yang melakukan ritual mudik. Mereka juga melakukan semacam “operasi pasar” bagi para pemudik dengan berbagai layanan kenyamanan sepanjang perjalanan.

Kenyataan ini seperti ingin bilang bahwa produk seluler juga telah menjadi bahan pokok. Mungkin menjadi yang kesepuluh, setelah sembako.

(Majalah Sinyal edisi 2/II, November 2005)

One Response

  1. :))
    Iya, Emang. Sebetulnya bukan produk selulernya. Tapi kebutuhan Komunikasi-nya. Kata Pak Guru di sekolah dulu… manusia adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi. Waktu telepon rumah mulai muncul – post pengeluaran rumah tangga bertambah – dari awalnya cuma beras, listrik, air, dll. Sekarang zaman selular.. mau gak mau (harus mau) nambahin post pengeluaran juga. Bahkan keluarga saya yang pas-pasan, pilih berhenti langganan koran daripada pulsa di embargo
    :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: