The Surrender of Culture to Technology

Tekuk lutut kebudayaan di hadirat teknologi. Frase puitis di atas adalah judul buku tulisan Profesor Neil Postman, seorang kritikus media di Amerika. Lengkapnya berjudul: Technopoly: The Surrender of Culture to Technology.

Menurut Postman, ada tiga jenis kebudayaan: kebudayaan tool using, Teknokrasi, dan Teknopoli. Dalam kebudayaan yang masih sangat primitif, orang menggunakan tool tanpa perubahan pada tata nilai budaya saat itu. Ketika tool yang kemudian disebut teknologi mulai mengubah tata kebudayaan, maka masuklah mereka dalam sebuah Teknokrasi. Teknopoli merupakan masa ketika teknologi sudah mengangkangi kebudayaan dan menjadi penentu tunggal terhadap makna kebudayaan tersebut. 

Dulu, kalau Lebaran, kartu ucapan menumpuk. Sekarang orang ber-SMS,” kata Direktur PT Pos Indonesia, Alinafiah. “Saya juga hanya ber-SMS atau telepon dengan Ibu di kampung daripada bersurat-suratan,” tambah Alinafiah sambil tertawa. Dari 3.571 kantor pos di penjuru Indonesia sat ini, Alinafiah menyebut hampir 3.000 kantor pos merugi. “Tahun 2003 lalu, pemerintah hanya mampu menutupi kerugian 1.772 kantor pos. Dari sekitar Rp 100 miliar yang kami klaim, hanya dibayar pemerintah Rp 80 miliar,” cerita Alinafiah (Kompas, 19/09/2004).

Kondisi itu sungguh bertolak belakang dengan pesta pora operator layanan SMS (Short Message Service) menjelang Lebaran. Dapat dipastikan bahwa seperti tahun-tahun sebelumnya, pada hari Lebaran nanti SMS kita akan megalami keterlambatan sampai. Apalagi pada jam-jam sebubar Sholat Ied, kemungkinan besar akan terjadi SMS jam.

“Kami sudah melakukan monitoring, upgrade sistem, menaikkan kapasitas SMS Center, dan sebagainya, tapi rasanya selalu tidak cukup,” aku Gede Krishna Jaya, Brand Manager IM3 Indosat.

Semua ini terjadi akibat bergesernya “budaya” berkirim ucapan selamat hari raya. Kalau dulu silaturahmi diwakili dengan kartu lebaran yang indah dan teduh, kini ucapan selamat cukup disampaikan dalam pesan yang tak lebih dari 160 kata.

Rosihan Anwar, wartawan senior, menilai kecanggihan alat komunikasi sekarang tidaklah disertai dengan kedalaman isi. “Alatnya canggih, cepat, tapi manusia menggunakannya secara dangkal. SMS kan paling cuma memuat kalimat-kalimat sederhana,” kata Rosihan (Kompas, 19/09/2004).            

Apakah kita berada di ambang budaya Teknopoli? Wallahu’alam.          

(Majalah Sinyal, edisi 2, November 2004)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: