KANTOR ODONG-ODONG

odong2.jpgMenjalankan roda bisnis di Sabtu pagi, bagaimana caranya? Apakah harus pergi ke kantor?

Mus, seorang pengusaha penerbitan, melakukannya dari sebuah kereta odong-odong. Tahu kan kereta odong-odong? Ya, mainan jenis ini sedang naik daun. Ada berbagai macam odong-odong, mulai dari yang berbentuk kuda-kudaan atau komidi putar yang digerakkan dengan ontelan kaki sang operator, sampai kereta dua-tiga gerbong yang digerakkan dengan mesin bermotor. Untuk membuatnya lebih menarik perhatian, dipasanglah peranti pemutar musik dan pengeras suara untuk melantunkan lagu anak-anak.

Mainan ini memasarkan diri dengan cara jemput bola, mendatangi perumahan-perumahan. Mulanya mereka menjamur di perumahan-perumahan di Jakarta dan kota-kota satelit di pinggirnya. Namun, kini sudah merebak di seluruh penjuru Tanah Air mengikuti kisah suksesnya dalam mengeduk duit. Pelosok macam Mojokerto, misalnya, malah sudah menorehkan kisah duka kecelakaan kereta odong-odong.

Menurut artikel di salah satu edisi Tabloid Nova, seorang pengusaha odong-odong bernama Mulyadi yang menggerakkan usahanya di Percetakan Negara, Jakarta Pusat, malah sudah “mengekspor” produksinya ke Medan, Lampung, Padang, Palembang, dan Manado.

Mulanya Mulyadi membawa sendiri hasil karya odong-odong yang pertama ke perumahan. Tak diduga, andong buatannya menarik perhatian banyak anak. Mereka langsung ingin menjajal nikmatnya naik odong-odong. “Hasilnya lumayan. Sehari saya mengumpulkan uang sekitar 250 ribu.”

Melihat hasilnya yang lumayan, teman-teman Mulyadi banyak yang tertarik untuk menjadi penarik odong-odong. Mulyadi pun ingin menambah odong-odongnya. Agar lebih beragam, Mulyadi mengubah model odong-odong. “Bila awalnya membuat mainan kuda-kudaan, saya mulai membuat odong-odong berbentuk mobil-mobilan atau sepeda motor.” Demikian Tabloid Nova.

***

Lha iki piye kok malah ngomongin odong-odong? Bagaimana nasib Mus tadi? Tenang, beliau sedang asyik menikmati gerudakan odong-odong melaju di atas paving block sambil sesekali membuka ponsel Nokia E65-nya sambil membagi perhatian kepada Tawang dan Lintang, anaknya.

Ada sebuah folder menu di E65 yang didedikasikan menjadi “pool” untuk melancarkan kegiatan-kegiatan perkantoran, menunjang positioning ponsel produktif ini sebagai ponsel enterprise, dalam jajaran Eseries dari Nokia. Folder tersebut berjuluk Office. Isinya seperti perkakas yang kita isikan di komputer untuk menjalankan pekerjaan sehari-hari. Ada peranti kolaborasi Teams, ada pengolah dokumen Quickoffice, ada Notes untuk membuat catatan kilat, ada Converter jika menemukan satuan-satuan metriks yang aneh, ada Msg Reader untuk membaca e-mail, ada Scr Export untuk menampilkan layar dalam presentasi, ada Printers untuk langsung mencetak apa yang ada di layar, ada aplikasi Zip untuk memadatkan file, dan ada juga Adobe PDF untuk membaca dokumen PDF.

Nah, aplikasi terakhir inilah yang sering diintip oleh Mus di atas odong-odong. Dengan PDF dia bisa meninjau kreasi anak buahnya, sambil bermain dengan anak benerannya. Download-nya bisa di mana saja, dengan GPRS atau 3G. Jika nanti agak siang dia harus ngupi-ngupi di Bintangdollar pun, ada WiFi yang memersenjatai ponselnya itu. Dengan GPRS, 3G, HSDPA, dan WiFi, sekarang terbuka kemungkinan untuk menjalankan transfer data secara lebih cepat dan lancar. Dengan HSDPA yang seharusnya menyajikan koneksi 3,6Mbps atau kecepatan download sekitar 450kbps, maka partitur musik A Thousand Miles-nya Vanessa Carlton yang berjumlah 8 halaman dan berukuran sekitar 164KB, misalnya, seharusnya bisa ngendon di ponsel atau komputer kita dalam hitungan sepersekian detik.

***

Sampai tulisan ini dikejar-kejar bagian produksi untuk ditata letaknya, Mus belum bertemu Mulyadi. Bleh, apa pentingnya pertemuan mereka? Oh, akan menjadi merger sebagai Mus Mulyadi gitu? Mungkin. Tapi bukan sekadar “gitu”.

Bagi Tukang Sinyal yang kadang jadi Tukang Sinting, pertemuan itu penting untuk melahirkan sebuah bisnis baru. Coba saja simak, mereka sebenarnya sedang menyelenggarakan dan melangsungkan sebuah bisnis masa depan. Memang jelas Mus memang melakoni tren bisnis masa depan, wong dia memraktikkan mobile office. Tapi Mulyadi?

Tenang. Mulyadi juga menjalankan bisnis masa depan, mobile entertainment. Halah, gaya amat! Tapi iya kan? Mulyadi memberikan entertainment dengan menjemput bola. Mereka yang malas menembus kemacetan Jakarta, atau yang memang tak sanggup menebus ongkos hiburan kelas konsumeris yang mahal, sangat terbantu dengan kehadiran odong-odong di depan hidungnya.

Jika mereka bertemu, mungkin mereka bisa bertukar pikiran dan mungkin bisa sampai kesimpulan bahwa kantor bisa di-deliver secara odong-odong alias mobile. Mungkin mereka bisa joinan bisnis membuat sebuah kantor odong-odong, yaitu sebuah kantor keliling di mana segala perlengkapan perkantoran ada di dalamnya. Seperti odong-odongnya Mulyadi, maka kantor ini akan ramai disewa di hari-hari libur dan akhir pekan, di pinggiran kota atau di pusat kota-kota satelit metropolitan.

Ide ini akan mudah terwujud mengingat infrastruktur wireless broadband sudah digelar secara luas dan gegap gempita. Hanya saja selama ini kampanyenya masih berkutat pada soal fungsi fun-nya, belum sisi produktivitasnya. Meski tidak salah juga kalau produktivitas ini dicampur dengan sisi fun. Bisa saja kantor bergerak sewaan ini menjadi satu dengan sebuah café sehingga sambil mengerjakan pekerjaan kantor yang tidak bisa ditunda di hari Sabtu, pelanggan bisa menyeruput Iced Café au Lait di kantor odong-odong itu.

Odong-odong, sebuah sistem delivery yang cerdas dan pas dengan harapan pasar rekaan masyarakat kepepet kelas bawah, bisa mendasari ide sebuah kantor bergerak yang bersuasana sangat modern: Kantor odong-odong.
 
(F.X. Bambang Irawan)

Resep Iced Cafe au Lait
(dari www.cookitsimply.com)

Bahan:
300 ml kopi panas
300 ml susu panas
gula sesuai selera
60 ml whipped cream

Cara bikin:
1. Campur kopi dan susu, beri gula sesuai selera. Tutup dan biarkan sampai dingin. Lalu masukkan ke kulkas sampai dingin.
2. Bagi dalam 4 gelas, beri whipped cream di atasnya.
3. Sajikan untuk 4 orang.

About these ads

3 Responses

  1. PESEN SATU

  2. Tolong lampirkan harga dong odong

  3. Ass.Wr.Wb.
    Saya mau minta informasi untuk pembuatan odong-odong yang ditarik dengan sepeda motor dengan gandengan 4 roda & minimum untuk kapasitas 6 penumpang anak-anak, trims informasinya
    wass,

    Sumarno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: